Jangan Tinggalkan Mereka Sendiri

share on:

“Selamat malam untuk teman-teman terkasih kami dari keluarga kami. Selamat datang di Dubai, rumah kedua Anda.”

Kalimat itu harusnya biasa saja, bila diucapkan pada orang yang tepat. Namun terasa menyakitkan dan melukai hati bila diucapkan seorang penyanyi dari UEA di konsernya untuk menyambut serombongan turis dari Isr*el.

Seakan tak cukup, berikutnya diunggah video turis dari Isr*el melakukan ritual Talmud di gurun pasir Dubai.

“UEA akan menjadi tempat berlindung yang aman bagi kami,” statement itu keluarkan Rabbi Elia Badi, yang ditunjuk sebagai penanggung jawab urusan Yahudi di UEA.

Inilah dunia di mana kita hidup hari ini. Allah pilih kita menjadi generasi yang menyaksikan pengkhianatan demi pengkhiatan yang dilakukan negara-negara Timur Tengah yang dibungkus dengan kata “normalisasi” hubungan.

Setelah UEA, Bahrain dan Sudan, hari ini ganti Maroko yang meneken kesepakatan. Bukan tak mungkin Arab Saudi tinggal menunggu giliran.

Perlahan tapi pasti, Palestine ditinggalkan saudara-saudara terdekatnya, ibarat para tetangga yang rumahnya hanya sepelemparan batu. Sepanjang sejarah, persatuan adalah barang yang sangat mahal. Seakan tak terbeli oleh umat hari-hari ini.

Seperti yang diriwayatkan Amir bin Said dari bapaknya, Rasulullah SAW berkata, “Aku telah memohon kepada Allah tiga hal. Dari tiga hal itu hanya dua yang dikabulkan. Pertama, aku memohon kepada Allah agar umatku tidak dibinasakan dengan musim susah (paceklik) yang berkepanjangan. Permohonanku ini dikabulkan.

Kedua, aku memohon kepada Allah agar umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana. Permohonanku ini pun dikabulkan. Ketiga, aku memohon kepada Allah agar umatku terbebas dari pertikaian sesama mereka, tetapi permohonanku yang ini tidak dikabulkan.”

Prof DR Raghib as Sirjani dalam bukunya “Bangkit dan Runtuhnya Andalusia” menuliskan, “Apa yang terjadi di Palestine hari ini adalah apa yang terjadi di Andalusia pada waktu itu.”

Tercatat, kejadian serupa mengiringi jatuhnya kota Sevilla. Salah satu mercusuar peradaban di Andalusia setelah Cordoba.

Dalam kondisi terkepung oleh pasukan Ferdinand, mereka sangat mengharapkan bantuan dari saudara-saudaranya.

Tapi apa yang terjadi? Sultan Ibnu Al Ahmar dari Granada justru memberikan kesetiannya pada Ferdinand. Ia dan pasukannya berbaris di belakang pasukan Castilla untuk merobohkan dinding kota Sevilla.

Andalusia yang waktu itu sudah terpecah belah menjadi ke-emiran kecil-kecil tak ada yang bisa diharapkan. Para pemimpinnya sibuk berebut kekuasaan antar keluarga mereka sendiri, juga berperang dengan negeri-negeri tetangganya.

Bantuan yang sangat diharapkan dari Daulah Muwahhidun di Afrika Utara tak kunjung datang. Ternyata mereka pun sibuk berperang dengan Kesultanan Muslim Marini.

Akhirnya, 21 November 1248 Sevilla jatuh ke tangan Ferdinand. Empat ratus ribu Muslim terusir dari Tanah Airnya dengan dihinakan. Masjid Agung Sevilla diubah menjadi gereja. Panji-panji Islam ditanggalkan, berganti salib dan bendera Castilla.

Mari kita mengambil pelajaran, apa yang terjadi pada waktu itu serupa betul dengan apa yang terjadi hari ini. Kawasan Timur Tengah terpecah belah menjadi negara-negara kecil yang saling bertikai satu sama lain.

Palestine bukan satu-satunya tujuan. Setelah merebut Baitul Maqdis, mereka akan melanjutkan penjajahan.

“Dari Jerusalem kita akan serang Madinah. Aku telah membuka jalan menuju Babil dan Yatsrib. Saatnya kita selesaikan dendam di Khaibar!” Kalimat pongah itu diserukan Modhe Dayan, panglima perang Isr*el setelah kemenangan mereka pada perang 1967.

Masihkah kita merasa hari ini semua baik-baik saja?

Jumuah Mubarak, everyone. Jangan lupa baca QS Kahfi.

Jakarta, 11/12/2020

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Leave a Response