Madrasah al-Yusufiyyah, Cikal Bakal Universitas Granada

share on:

Dahulu di Granada (غرناطة) terdapat Sekolah Islam setingkat perguruan tinggi yang dikenal menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di kawasan barat Dunia Islam masa itu. Ialah Madrasah al Yusufiyyah atau Madrasah an Nashriyyah (Madraza de Granada/Palacio de la Madraza/The Nasrid College), salah satu perguruan tinggi tertua di Andalusia, sekaligus bukti kepedulian penguasa Islam dan kaum intelektual-nya terhadap ilmu pengetahuan.

Berlokasi di dekat Masjid Raya Granada (kini Gereja Katedral Granada/Santa Iglesia Catedral Metropolitana de la Encarnación de Granada) dan Pasar al-Qaysariyyah (Alcaicería). Pendirian madrasah ini pada 1349, diprakarsai oleh Ridwan an-Nashri, perdana menteri Dinasti Nashriyyah (Bani Nashri) di Granada asal Castile, di masa Sultan Yusuf I al-Muayyad Billah (1333-1354). Keberadaan madrasah ini membuat Granada menjadi pusat pembelajaran utama di barat Dunia Islam yang bersaing dengan pusat intelektual Muslim lainnya, seperti Marrakesh, Meknes, Fez, Tlemcen, dan Tunis di al-Maghrib (Afrika Utara).

Berbagai disiplin ilmu diajarkan di madrasah ini. Seperti Tafsir Al-Qur’an dan Hadits, Hukum Islam, Ushul Fiqih, bahasa dan kesusastraan Arab, retorika, mantiq/logika, teologi, kedokteran, obat-obatan, pertanian, astronomi, filsafat, sejarah, ekonomi, kimia, mekanika, matematika (kalkulus, aljabar, aritmatika serta geometri) dan lain-lain.

Sejak awal, para Sultan Nashriyyah di Granada telah bekerja sama dengan para ulama-ilmuwan dan elit intelektual dari Mazhab Maliki (mazhab mayoritas Muslim Andalusia dan Afrika Utara) untuk terus mengembangkan kegiatan keilmuan secara ilmiah di Granada.

Madrasah al-Yusufiyyah semakin dikenal sebagai tujuan bagi para pelajar untuk menimba ilmu pengetahuan. Salah satu bidang ilmu pengetahuan umum yang paling digemari adalah kedokteran. Pada pertengahan abad ke-14, kedokteran menjadi bidang ilmu pengetahuan yang paling dikembangkan oleh Dinasti Nashriyyah melalui Madrasah al-Yusufiyyah.

Hal ini menyebabkan Granada menjadi pusat Ilmu Kedokteran yang terkemuka di Dunia Islam maupun Eropa di abad ke-14 dan 15. Sepanjang era Dinasti Nashriyyah, terdapat beberapa dokter/tabib terkenal, seperti; Lisanuddin Ibn al-Khatib asal Loja (1313-1374) dan Ibn Yatima al-Ansari dari Almería (1324-1369). Pada 1365-1367, tepat di masa Sultan Muhammad V al-Ghani Billah (1354-1359, 1362-1391), telah dibangun Bimaristan (El-Maristán), yaitu rumah sakit umum bagi fakir-miskin dan rumah sakit jiwa. Pembiayaan rumah sakit ini berasal dari sedekah dan zakat.

Profesi medis juga telah dilakukan oleh kaum perempuan. Salah satu yang terkenal di antaranya adalah Umm al-Hasan al-Tanyaliyyah. Spesialisasi mereka terutama ialah ginekologi dan kebidanan, yang mana pasiennya hanyalah sesama perempuan saja.

Para Sultan Nashriyyah di Granada telah mencurahkan perhatian besar untuk menumbuhkan kembali semangat intelektual di kalangan Muslim, pasca penaklukan sebagian besar wilayah Andalusia oleh kerajaan-kerajaan Katolik Castile, Aragon dan Portugal di abad ke-13. Sejumlah besar pengungsi Muslim Andalusia dari kota-kota Islam yang telah dikuasai pasukan Katolik, seperti Córdoba, Sevilla, Murcia, Jaén, Valencia dan Xàtiva di Granada, turut mengembangkan tradisi keilmuan mereka di kota tersebut.

Dengan keberadaan Madrasah al-Yusufiyyah, maka seluruh ilmu pengetahuan warisan Muslim Andalusia telah ditransfer ke Granada selama 150 tahun. Hal ini melahirkan budaya ilmiah ketat yang menghasilkan individu Muslim brilian dan produktif, yang berbasis di Granada.

Beberapa tokoh Islam yang pernah belajar maupun mengajar di Granada (termasuk di Madrasah al-Yusufiyyah) dalam berbagai disiplin ilmu, antara lain ialah: Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Gharnathi/Ibn al-Yayyab (w. 1349), Abu Abdillah Muhammad Ibn Fakhkhar al-Albirri (w. 1353), Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim (w. 1353), Lisanuddin Ibn al-Khatib (w. 1374), Abu Abdullah Muhammad Ibn Marzuq al-Tilimsani (w. 1379),

Yahya Ibn Hudhayl (w. 1380), Abu Said Faraj bin Lubb al-Tha’labi (w. 1381), Abu al-Qasim Ibn Ridwan al-Malaqi (w. 1382), Abu Isḥaq Ibrahim bin Musa asy-Syathibi/Imam asy-Syathibi (w. 1388, penulis Kitab al-Muwafaqat dan al-I’tisham), Abu Zayd Abdurraḥman Ibn Khaldun (w. 1406, penulis Kitab Muqaddimah), Abu Bakar Muḥammad Ibn Asim al-Gharnathi (w. 1426), Abu Abdullah Muhammad as-Saraqusti (w. 1461, Mufti Agung Granada), Muḥammad al-Jazuli (w. 1465), Abu Abdullah Muḥammad Ibn al-Azraq (w. 1491, Qadi Granada dan Yerusalem), Abu Abdullah Muhammad al-Mawwaq (w. 1492, Qadi dan Mufti Agung Granada terakhir), dan lain-lain.

Terdapat beberapa Muslim Mudéjar dan Yahudi asal kerajaan-kerajaan Katholik (Aragon dan Castile), yang juga menimba ilmu di Granada. Seperti Muhammad ash-Shafra al-Qirbilyani (w. 1360), asal Crevillente/Alicante, Kerajaan Aragon (penulis Kitab al-Istiqsa/risalah tentang penyakit tumor) dan Muhammad as-Saquri dari Segura/Jaen, Kerajaan Castile (w. 1369), yang keduanya kelak menjadi dokter terkenal di Granada, maupun Muslim Mudéjar asal Valencia (Aragon) yang pergi ke Granada untuk mempelajari bahasa Arab pada 1476.

Mereka berasal dari wilayah Andalusia yang telah hilang dari kekuasaan Umat Muslim, lalu memutuskan untuk pergi belajar ke Granada yang masih berstatus wilayah Islam. Hal ini disebabkan karena ulama, ilmuwan dan sarjana Muslim masih banyak disana, serta ilmu yang ingin dipelajari jauh lebih memadai. Ada juga beberapa Yahudi yang menjadi dokter terkenal di Granada, misalnya Isaac Hamón, dokter pribadi Sultan Abu al-Hasan Ali (1464-1482, 1483-1485), dan putranya, Moses Hamón, yang menjadi dokter Sultan Bayazid II dari Dinasti Utsmaniyah di Istanbul, setelah pengusiran Yahudi dari Spanyol (1492) oleh Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella I.

Setelah Penaklukan Granada oleh Castile-Aragon (2 Januari 1492), Madrasah al-Yusufiyyah masih tetap beroperasi hingga akhir 1499. Kemudian semuanya berubah setelah Kardinal Fransisco Jiménez de Cisneros (Qamnish), Uskup Agung Toledo, menggantikan Archbishop Hernando de Talavera yang dikenal toleran kepada Muslimin sebagai Uskup Agung Granada.

Setelah berhasil memperoleh restu Ratu Isabella I, ia memulai upaya konversi agama secara paksa kepada Umat Muslim dan mendirikan Mahkamah Inkuisisi di Granada. Tindakannya tersebut memicu kerusuhan publik di al-Bayyazin (Albaicín), Granada, pada Desember 1499. Sebagai balasannya, Kardinal Cisneros memerintahkan Mahkamah Inkuisisi untuk merampas seluruh kitab-kitab agama (Al-Qur’an dan Hadits) maupun buku-buku ilmu pengetahuan berbahasa Arab lainnya dari perpustakaan Madrasah al-Yusufiyyah dan seluruh rumah penduduk Muslim Granada.

Sekitar 5.000-80.000 kitab dan buku lalu dibawa ke Lapangan Bab ar-Ramlah (Bib-Arrambla) untuk dibakar di depan publik dalam api unggun yang berkobar. Hanya kitab-kitab kedokteran dan obat-obatan beserta sebagian kecil filsafat dan sejarah yang tidak dimusnahkan, lalu dikirim ke Universitas Alcalá de Henares di Madrid.

Hal ini memicu terjadinya “Pemberontakan Alpujarras Pertama” oleh Umat Muslim Granada (1499-1501), yang berakhir dengan kekalahan dan konversi massal secara paksa seluruh Umat Muslim di Granada ke Agama Katholik pada 1501 atas perintah Ratu Isabella I.

Madrasah al-Yusufiyyah ditutup sejak Januari 1500 dan dialihfungsikan menjadi Gedung Casa del Cabildo (balai kota) yang baru oleh Raja Ferdinand II hingga abad ke-19. Pada 1531, “Universitas Granada,” didirikan oleh Kaisar Charles V/Raja Carlos I untuk menghidupkan kembali kegiatan keilmuan di Granada, sekaligus menggantikan Madrasah al-Yusufiyyah yang sudah tidak beroperasi lagi.

Sejak 1976, bangunan bekas madrasah ini menjadi milik Universitas Granada. Kini Madrasah al-Yusufiyyah menjadi museum kampus sekaligus bangunan lambang dari universitas tersebut.
.
Sumber:
– Luca Mattei. 2008. Study of the Madrasah of Granada in the Light of the Material Culture and of Scientific Methods used in the Intervention of 2006. University of Granada.
– Philip K. Hitti. 2008. History of the Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
– https://alif.id
– https://ballandalus.wordpress.com
– https://historiayarabismo.wixsite.com.
Dan berbagai sumber referensi lainnya.

Oleh : @aladdin1997 • Kontributor Gen Saladin

Tags:

Leave a Response