Qadisiyah, Ketika Negara Adidaya Tertunduk di Hadapan Mujahid

share on:

Pada tanggal 16 November tahun 636 Masehi, meletuslah sebuah peristiwa besar yang akan mengakhiri kezaliman pemerintahan Sasanid Persia selama-lamanya. Peristiwa itu dinilai oleh para Sejarawan sebagai salah satu pertempuran paling menentukan dalam sejarah manusia.

Apa itu Qadisiyah?

Namanya pertempuran Qadisiyah. Imam Ath Thabari dalam buku sejarahnya mengungkapkan bahwa jumlah kaum muslimin hanya 30 ribu mujahid, melawan 200 ribu tentara Persia yang katanya memang salah satu tentara profesional di dunia saat itu. Buktinya, Persia berkali-kali pernah mengalahkan tentara Romawi. Namun di hari-hari Qadisiyah, kehebatan mereka melempem.

Kenapa pertempuran itu terjadi?

Ini adalah bagian dari rentetan program penyebaran dakwah Islam di era Khulafaur Rasyidin, dimulai sejak Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dan menuai banyak keberhasilan di era Kekhalifahan Umar bin Khattab. Nah, pertempuran ini adalah salah satu momentum dimana Kaum Muslimin ingin mengibarkan dakwah Islam di Persia, tapi pemerintah Persia malah menistakan dakwah.

Bahkan dalam sejarahnya, Rasulullah pernah mengutus utusan untuk menyampaikan ajakan masuk Islam pada Raja Persia yang digelari dengan “Kisra”, namun bukannya menyambut utusan dengan hangat, surat itu malah dirobeknya. Rasulullah ﷺ akhirnya bersabda, “Allah akan merobek-robek kerajaan Kisra.”

Hadits itu disampaikan Rasulullah di Madinah bertahun-tahun sebelum beliau wafat. Dan benar, Mahabenar Allah dan benarlah ucapan Rasulullah. Tak ada yang menyangka bangsa Arab bisa datang ke Persia sebagai pembebas. Bahkan ada sekitar 100 veteran Badar yang mengikuti Pertempuran Qadisiyah.

Di Madinah, Umar berdoa terus menerus demi kemenangan Kaum Muslimin. Setiap hari beliau berjalan menuju gerbang Madinah, menanti apakah ada utusan yang memberikan kabar keadaan Kaum Muslimin di Qadisiyah.

Siapa pemimpin Kaum Muslimin?

Tidak tanggung-tanggung, Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash! Beliau bukan sahabat biasa. Beliau adalah pemanah pertama dalam Islam. Orang yang melindungi Rasulullah di menit-menit berdarah serangan Quraisy di Uhud. Beliau pulalah yang disabdakan Rasulullah sebagai sahabat yang doanya selalu terkabul

Bayangkan betapa hebatnya Qadisiyah ini. Karena ia sangat menentukan masa depan dakwah Islam. Karena memang perjuangannya besar: 3 hari pertempuran ini terus berjalan sampai akhirnya Allah memberikan kemenangan bagi Kaum Muslimin. Padahal panglima Persia, Rustum Farakhzad, adalah panglima besar yang terkenal dengan kejeniusannya di medan tempur.
.
Alhamdulillaah. Kemenangan datang dari Allah bukan dari jumlah. Datang dari iman bukan dari semata-mata taktik. Itulah salah satu hikmah Qadisiyah yang melegenda. Seorang muslim harus berikhtiar maksimal, namun iringi dengan tawakal. Itulah pula yang saat ini kita lihat di G4z4, ketika pejuang menggambarkan ketegaran dan keimanan menghadapi pasukan yang katanya “tak terkalahkan” itu.

Para pejuang di Palestina pasti sangat memahami sejarah ini. Ketika mereka menembak, mereka mengingat kejituan panah Sa’ad bin Abi Waqqash. Ketika mereka menerjang, mereka terinspirasi dengan kehebatan Khalid bin Walid. Ketika mereka bertakbir, takbirnya adalah takbirnya Zubair saat menghadapi musuh.

Kapan-kapan akan ku tunjukkan bagaimana pemahaman pejuang pada sejarah Islam. Penasaran?

Sumber: GenSaladin

Referensi :

  1. Tarikh Ath Thabari, Imam Ibnu Jarir Ath Thabari
  2. Ayyamun Laa Tunsa, Tamir Badr
Tags:

Leave a Response