Renungan Jatuhnya Dinasti Bani Umayyah

share on:

Al Qur’an menggambarkan kepada kita dengan jelas, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” tertuang dengan gagahnya dalam Ali Imran ayat ke 140.

Dari situ kita belajar, bahwa yang namanya sesuatu tidak selalunya ada di atas. Jangankan manusia, bangsa pun kena kaidah itu. Peradaban pun kena kaidah itu. Manusia kadang di atas dan di bawah. Peradaban bisa bangkit dan bisa runtuh. Dan semuanya ada sunnatullah untuk kita tadabburi.

Kali ini, #KenapaKitaJatuh akan membahas sebab-sebab mengapa Negara sehebat Umayyah bisa hancur. Negara hebat yang telah membawa lentera dakwah menuju India, China, gerbang-gerbang Asia, lalu pintu-pintu Afrika bahkan hingga 70 kilometer dekat Paris. Kenapa negeri sehebat itu bisa hancur?

Kita perlu adil. Bahwa Negara Umayyah sudah memberikan sumbangsihnya yang sangat besar bagi Umat. Mereka membuka negeri-negeri yang sebelumnya belum tersentuh dakwah para sahabat Radhiyallahu Anhum ajma’in. Namun ternyata, seiring dengan bertambahnya umur negeri itu, mereka mulai merasakan lalai dan lupa bahwa kemenangan sejatinya adalah karunia Allah, bukan semata-mata usaha manusia.

  1. Kemunduran itu dimulai benihnya sejak awal, ketika sahabat Muawiyah Ra. memutuskan mengangkat anaknya sendiri sebagai Khalifah penerus beliau. Dr Abdul Halim Uwais mentadabburi, “saat itu peradaban Islam seperti mulai dipisahkan dari ruhnya dan otaknya.” Sebab kaidah musyawarah yang merupakan kekuatan umat dihilangkan dan diganti dengan pewarisan kekuasaan.
  2. Dalam perjalanan sejarahnya, Negara Umayyah menjelang jatuhnya, terseret pada fanatisme kebangsaan. Lingkaran kekuasaan secara tidak tertulis harus diisi oleh orang-orang Arab, padahal saat itu Kaum muslimin sudah sangat luas dari Persia sampai ke Andalusia. Pos-pos kepemimpinan yang harus diisi orang bangsa Arab ini pun terjadi pertikaian antar suku.
  3. Keadaan ini diperparah dengan nepotisme antar keluarga yang ketika seseorang jadi pejabat, ia memudahkan familinya untuk bisa mengisi kekuasaan penting sementara keluarga lain yang jadi rivalnya dibatasi. Pertikaian antar keluarga ini bisa berakhir dengan perang kecil yang mengakibatkan keretakan internal Pemerintahan.
  4. Pemimpin yang tidak lagi memikirkan umat. Di akhir masa Negara Umayyah, para pejabat banyak membangun semacam kastil atau istana di luar kota. Beberapa akhirnya memilih untuk menetap di sana dan menjauh dari keramaian masyarakat. Itulah yang membuat masyarakat marah, karena suara dan aspirasi mereka tidak didengar pemerintah.
  5. Kezaliman penguasa yang menzalimi rakyatnya. Dalam perjalanan menuju keruntuhan, Bani Umayyah sering memilih opsi kekerasan pada rakyatnya yang berbeda pikiran. Hal ini dimulai sejak Al Hajjaj bin Yusuf di timur Al Wali Abdullah bin Habjab di barat, dua “tukang jagal” yang banyak membunuh sahabat dan Tabi’in karena tidak sesuai dengan kemauan penguasa.


    Referensi :
    Dirasat Li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyyah, Dr Abdul Halim Uwais.

Leave a Response