Pertanian Islam Untuk Dunia

share on:

Belum lama ramai perdebatan di sosial media tentang nama satu jenis tanaman hias yang dianggap melecehkan perempuan. Sebelum itu, ramai harga tanaman yang dijual per lembar daun yang dibanderol fantastis.

Selama pandemi ini ramai-ramai orang jadi hobi berkebun. Yang sebelumnya tak pernah bersentuhan dengan tanah, kini tak segan berurusan dengan segala rupa media tanam.

Marak challenge di media sosial untuk mengunggah foto tanaman setiap hari. Alih-alih menanam bunga, saya kepingin menanam padi di halaman rumah.

Tim Lang, PhD, seorang professor kebijakan pangan dari City University London, menjelaskan, melakukan kontak langsung secara rutin dengan tanaman, hewan, dan lingkungan akan meningkatkan kualitas kesehatan fisik dan mental seseorang.

Bercocok tanam membuat seseorang lebih sabar, sarana relaksasi yang membuat pikiran lebih fresh, serta meningkatkan daya ingat. Bahkan disebutkan orang yang hobi berkebun akan menurunkan risiko terserang penyakit alzheimer hingga 50%.

Bukan hanya manusia modern yang hobi berkebun. Tercatat sahabat mulia Utsman ibn Affan juga hobi berkebun di masa tuanya. Seperti yang tercantum dalam buku “Al Hayah al-Iqtishadiyah” karya Ahmad Mukhtar Al-Ibadi.

Ini kebiasaan yang “unik”, karena tidak seperti penduduk asli Madinah yang tumbuh di lingkungan agraris, orang-orang Makkah tak terbiasa dengan bercocok tanam karena tanah Makkah yang kering dan tandus.

Tentu saja alasan Utsman ibn Affan berkebun bukan sekadar mengisi waktu luang. Namun secara tegas ia ingin memberikan manfaat untuk banyak orang, bahkan burung dan hewan lainnya.

Seperti tersebut dalam hadist dari Jabir bin Abdullah RA, ia bercerita bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” [HR Imam Muslim].

Kalau hari-hari ini banyak masjid memberdayakan lahan kosongnya untuk bertanam buah dan sayur sebagai antisipasi bila terjadi resesi pangan, seperti yang dilakukan Masjid Jogokariyan, Yogya, ternyata itu adalah salah satu strategi kemakmuran di masa Khalifah Umar ibn Abd Azis.

Di masa pemerintahannya yang singkat, Khalifah membuat kebijakan tidak boleh ada lahan menganggur.

Bila pemiliknya tak bisa mengolahnya, maka ia harus memperkerjakan orang lain untuk mengelolanya. Kalau tetap nekat membiarkan lahan itu mangkrak, maka negara berhak menyita untuk dikelola menjadi lahan produktif.

Kebijakan itu membuahkan hasil luar biasa. Hanya dalam waktu 29 bulan masa pemerintahannya, wilayah Daulah Umayyah yang membentang dari Asia Tengah hingga ujung Afrika, yang terlihat hanya dua warna: Hijau dan biru.

Hijau untuk pertanian yang subur, serta biru untuk warna laut dan langit. Tak ada lahan tandus yang dibiarkan gersang.

Para sarjana Muslim menulis kitab-kitab tanaman dan pertanian dengan sangat rinci. Seperti Riyad al-Din al-Ghazzi al-Amiri, ahli pertanian dari Damaskus, Suriah. Dalam kitabnya ia menuliskan tentang jenis lahan pertanian.

Bagaimana cara memilih tanah yang baik, jenis-jenis pupuk, pembibitan, pencangkokan, penanaman, hingga pembuatan saluran irigasi. Ia juga menulis tentang budidaya tanaman biji-bijian, kacang-kacangan, umbi-umbian, sayuran, bunga, dan tanaman lainnya.

Seorang ilmuwan dari Andalusia bernama Abu Zakariya Yahya ibnu Muhammad ibnu Ahmad al- Awwam al-Ishbili, menulis kitab “al-Filaha” atau “Buku tentang Pertanian’ di abad ke-12.

Hebatnya, ia sudah menuliskan tentang hidrologi atau ilmu ketersediaan sumber air sebagai bagian integral dari sektor pertanian.

Ia mengenalkan bibit unggul serta jenis tanaman yang sesuai untuk ditanam di lahan tertentu. Ia mendata sebanyak 585 jenis tanaman. Lengkap dengan cara memeliharanya, pemberantasan hama, hingga metode panen.

Dalam kitabnya, ia juga menjelaskan cara penyimpanan biji-bijian serta buah-buahan basah dan kering. Seluruh materi yang luar biasa itu diuraikan dengan sangat komprehensif.

Hasilnya? Andalusia gemah ripah loh jinawi. Bahkan hingga hari ini. Di saat Islam sudah meninggalkan negeri itu 528 tahun lamanya, sistem pertanian, irigasi, bahkan bibit pohon zaitun yang dibawa dari bumi Syam masih memberikan kesejahteraan bagi penduduk Spanyol.

Kalau hari ini Spanyol masuk dalam daftar 6 negara penghasil minyak zaitun terbesar di dunia, bersama Tunisia, Maroko, Turki, Italia, dan Yunani, itu karena Islam yang mewariskan sistem pertanian yang paripurna untuk mereka.

Jakarta, 23/10/2020

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Leave a Response