Menunggu Dikutuk Jadi Batu

share on:

Seorang pria tua tertawa mesum. Tangan kanannya memegang minuman, tangan kirinya menyingkap pakaian gadis berkerudung yang membawakan minuman untuknya. Sembari berseru, “Ouuuh! Le prophete! – Ouh, Nabi!”. Tertulis di headline, “Erdogan: Dans le Prive Il Est Tres Drôle – Secara Pribadi Ini Sangat Lucu”.

Gambar besar itu menghiasi sampul Tabloid Charlie Hebdo edisi 28 Oktober. Pria tua itu digambarkan mirip dengan Presiden Turki Erdogan.

Seakan belum cukup memancing konflik hingga menimbulkan korban jiwa dan membuat rusuh dunia, tabloid satire itu terus-menerus mencari masalah.

Kali ini pribadi Presiden Erdogan yang diserang melalui olok-oloknya. Charlie Hebdo merasa di atas angin, karena Presiden Macron pasang badan untuk mereka.

Saya tidak mengerti, apakah dulu Macron belajar sejarah di bangku sekolah. Kalau belajar sejarah, harusnya ia paham seberapa besar hutang Prancis pada Islam melalui Daulah Utsmani.

Tersebutlah Raja Francis I dari Prancis yang tertawan di penjara Habsburg Austria. Tak ada pilihan, Ibu Suri Louise of Savoy mengirim utusan pada Sultan Sulaiman Al Qonuni untuk meminta bantuan membebaskan putranya.

Mengapa meminta bantuan pada Daulah Utsmani bukan pada kerajaan lain di Eropa? Karena pada waktu itu tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan pasukan Utsmani di dunia.

Apalagi sejarah mencatat, sebelum penawanan itu terjadi, tepatnya di tahun 1526, pasukan Utsmani memenangkan Perang Mohacs melawan kekaisaran Hungaria, yang merupakan sekutu terkuat monarki Habsburg Austria.

Sehingga tak sulit bagi Sultan untuk menekan monarki Habsburg dan mengeluarkan Sang Raja dari dalam penjara.

Sejak saat itu Prancis dalam perlindungan Utsmani menghadapi serangan musuh-musuhnya, termasuk dominasi kekuatan Spanyol dan Portugal. Bahkan pada tahun 1533, Sultan memberikan 100.000 koin emas untuk Raja Francis I.

Seandainya pada waktu itu Sultan Sulaiman Al Qonuni tidak bersedia mengulurkan tangannya, bisa jadi monarki Prancis tinggal cerita.

Dalam salah satu pidatonya, Erdogan mengatakan, “Saya hidup di masa presiden Amerika dipimpin oleh Ronald Reagan hingga Trump.

Sebenci-bencinya pemimpin Amerika terhadap Islam seperti yang dilakukan oleh keluarga Bush, tak pernah mereka membawa kebencian itu dalam wilayah negara.

Namun Macron membawa permusuhan itu ke istananya. Selama saya hidup, inilah satu-satunya pemimpin yang membawa negaranya membenci satu agama.”

Jadi, kalau hari ini Macron menabuh genderang perang dengan Turki, itu ibarat anak yang durhaka pada orangtuanya. Ia tak ubahnya Malin Kundang yang menunggu dikutuk jadi batu.

Oleh Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com | channel Youtube: uttiek.herlambang

Leave a Response