Aktivis Islam di Kota Solo Mengadakan Acara Bedah Buku Perjuangan yang Dilupakan Karya Rizki Lesus

share on:

Pada hari Sabtu tanggal 30 September 2023, aktivis Islam di Kota Solo mengadakan acara bedah buku Perjuangan yang Dilupakan karya Rizki Lesus di Otsmani Coffee.

Selain mendatangkan Rizki Lesus sebagai narasumber utama, acara yang diadakan berbagai macam aktivis Islam di Kota Solo tersebut juga mendatangkan sejarawan Muslim lulusan Universitas Diponegoro, yakni Ustadz Mukhtar Salahuddin.

Acara tersebut disambut meriah oleh umat Islam di Kota Solo, sebab dalam acara tersebut mendatangkan dua narasumber hebat, Rizki Lesus yang notabene penulis buku yang dibedah dan Ustadz Mukhtar Salahuddin yang notabene salah satu aktivis Muslim terkemuka di Kota Solo yang juga bergulat dengan sejarah.

Menurut Ustadz Hasan Agha, Gus Muhammad Amin Fadhli, dan Ustadz Rofiq yang mewakili pihak Otsmani Coffee, ‘acara ini diadakan agar umat Islam di Kota Solo melek sejarah negerinya, sejarah peranan umat Islam selama masa penjajahan, serta memantik umat Islam di Kota Bengawan ini agar terus semangat membaca buku dan menuntut ilmu.

Hal tersebut disebabkan, bagaimanapun juga Kota Solo ini sejak masa kerajaan Islam, pergerakan, kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan, memainkan peranan yang sangat penting.

Misalnya saja, sebelum Sarekat Islam muncul di Kota Surabaya oleh HOS Cokroaminoto pada tahun 1912, ada Sarekat Dagang Islam oleh Haji Samanhudi yang didirikan di Laweyan, Kota Solo, tepatnya pada tahun 1905,’ ujar Ustadz Hasan Agha.

‘Artinya, dengan diadakan acara bedah buku yang bertajuk sejarah di Kota Solo ini sangat kompatibel dan relevan dengan fakta Kota Solo ini diwarnai berbagai macam peristiwa sejarah, terutama sejarah Islam,’ kata Ustadz Hasan Agha.

Poin-poin Inti Selama Acara Bedah Buku
Memasuki pukul 20.00 WIB, acara bedah buku Perjuangan yang Dilupakan dimulai, yang dihadiri 80-an peserta.

Ustadz Ulwan sebagai moderator memandu acara tersebut dengan baik, sesekali diselipkan candaan agar peeserta diskusi tidak merasakan bosan.

Setelah membuka acara, Ustadz Ulwan mempersilahkan Rizki Lesus sebagai narasumber pertama untuk memberikan ulasan-ulasan yang mencerahkan kepada peserta diskusi.

Nampak dari raut wajah Rizki Lesus memancarkan kebahagiaan, sebab diskusi mengenai sejarah Islam ternyata masih digemerai oleh kaula muda Muslim di kota yang juga kaya akan dinamika sejarah.

Mula-mula Rizki Lesus menekankan, bahwa Indonesia ini tidak dipisahkan dengan Islam, sebab sejak penjajah Barat dan dari Asia, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis, maupun Jepang, Islam menjadi pemersatu dan penggerak perlawanan melawan arogansi kolonial, dan umat Islam menjadi aktor dominan dalam perlawanan tersebut.

Memasuki tahun 1945, ketika posisi Jepang mulai terhimpit pada ‘Perang Dunia 2’ dibentuklah BPUPKI, Panitia Sembilan, hingga PPKI, yang pernah menjadi saksi bahwa sila pertama yang berbunyi ‘Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya,’ pernah menjadi ‘Gentlemen Agreement.’

Namun, kesepakatan final tersebut dibatalkan secara sepihak, tepat sehari setelah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Narasumber kedua, Ustadz Muchtar Salahuddin juga menjelaskan, bahwa hukum Islam ini pernah tegak di Kepulauan Nusantara pada periode kesultanan Islam.

Sebut saja pada kasus Kesultanan Islam Aceh, Kesultanan Banten, Kesultanan Demak, Kesultanan Mataram dengan pengadilan surambinya, dan masih banyak lagi.

Hanya saja, eksistensi hukum Islam tersebut perlahan-lahan ditindas, dibungkam, dan dihapus oleh otoritas kolonial.

Dengan kata lain, sejalan dengan Rizki Lesus, Ustadz Mukhtar Salahuddin juga menegaskan bahwa negeri ini tidak bisa dilepaskan dengan Islam itu sendiri. Sepanjang acara tersebut, beberapa peserta aktif menanyakan dan memberi pendapat lain. Tepat memasuki pukul 22.00 WIB, acara diskusi bedah buku Perjuangan yang Dilupakan selesai. (genmuslim)

Tags:

Leave a Response