Penghormatan Sultan Bayazid II Terhadap Kedaulatan Negara-Negara Kristen dan Belas Kasih Terhadap Yahudi yang Terusir dari Andalusia

share on:

Sultan Bayazid II dikenal sebagai sultan yang condong kepada perdamaian. Meski demikian, panji-panji jihad tetap berkibar selama masa pemerintahan Sultan Bayazid II. Oleh karena itu, banyak musuh Daulah Utsmaniyah mencoba mencari perlindungan di balik sesuatu yang dinamai hubungan-hubungan diplomatik.

Hubungan-hubungan diplomatik pun menjadi giat antara Daulah Utsmaniyah dan negara-negara Eropa. Pada masa sebelumnya, hubungan diplomatik hanya terbatas pada negara-negara yang terletak di wilayah-wilayah perbatasan. Setelah itu dibangun hubungan diplomatik antara Daulah Utsmaniyah dengan Keuskupan di Roma, Kerajaan Florence (Firenze), Naples (Napoli), dan Prancis. Juga diadakan perjanjian damai dengan Kerajaan Venezia (Venezia) dan Hongaria.

Pada masa pemerintahan Sultan Bayazid II, datang duta besar pertama dari Rusia ke Istanbul pada tahun 898 H (1492 M). Kedatangan duta besar Rusia terjadi pada masa Grand Duke of Moscow (Ivan III Vasilyevich), yaitu pada tahun 1492 M, serta masa selanjutnya. Konsekuensinya, negara-negara Kristen yang terikat perjanjian damai mendapat hak kekebalan dan keistimewaan diplomatik. Namun, hal itu juga membuka pintu bagi musuh-musuh Islam untuk mengetahui kelemahan Daulah Utsmaniyah.[1]

Kemudian, salah satu jasa besar Sultan Bayazid II yang dicatat dengan tinta emas sejarah adalah pertolongannya terhadap kaum Yahudi dan Muslimin yang tertindas di Andalusia. Mereka dipaksa menganut Nasrani atau diusir dari Semenanjung Iberia. Meningkatnya berbagai bentuk penindasan di Semenanjung Iberia—pada masa Sultan Bayazid II—dipicu oleh konsentrasi orang-orang Kristen Spanyol untuk menyatukan wilayah-wilayah mereka dan merampas semua wilayah yang masih ada di tangan kaum Muslimin. Hal ini terjadi setelah Spanyol tunduk di bawah satu kepemimpinan, setelah pernikahan antara Ratu Kastila Isabel I dan Raja Aragon Fernando II pada 19 Oktober 1649.

Selanjutnya, kerajaan-kerajaan Spanyol yang telah bersatu itu bergerak membersihkan eksistensi Islam di seluruh wilayah Spanyol, beberapa saat sebelum jatuhnya Granada. Kemudian mereka memfokuskan seluruh perhatian mereka kepada Granada, satu-satunya Kerajaan Islam yang merupakan simbol dari Dunia Islam yang hilang.[2]

Orang-orang Kristen Spanyol memberlakukan prosedur yang keras terhadap kaum Muslimin. Mereka berupaya mengkristenkan kaum muslimin secara paksa dan mempersempit ruang geraknya, sehingga banyak umat Islam yang pergi meninggalkan Semenanjung Iberia.

Akibat penindasan tersebut, muslimin Morisco—umat Islam Andalusia yang masih bertahan di Andalusia pasca jatuhnya Granada—bangkit melakukan pemberontakan dan perlawanan di hampir semua kota Spanyol yang di sana terdapat minoritas orang Islam, khususnya di Granada dan Valencia. Gerakan perlawanan berhasil ditumpas oleh penguasa Kristen Spanyol.

Di sisi lain sudah sewajarnya jika kaum muslimin Morisco mengarahkan pandangan mereka kepada raja-raja Islam di Timur dan Barat untuk menyelamatkan mereka. Utusan dan surat dari kaum muslimin Andalusia telah datang berulang kali kepada para penguasa Islam di Timur dan Barat, meminta mereka untuk menyelamatkan umat Islam di Spanyol dari berbagai tindakan kezaliman orangorang Kristen. Terkhusus, menyelamatkan kaum muslimin Andalusia dari tindakan tidak manusiawi yang dilakukan para pemuka agama Kristen dan Dewan Inkuisisi mempraktikkan berbagai bentuk penyiksaan dan kekejaman terhadap orang yang tidak mau memeluk Nasrani.

Informasi tentang berbagai peristiwa di Andalusia telah sampai ke wilayah timur, hingga mengguncangkan Dunia Islam. Raja Asyraf—dari Daulah Mamalik di Mesir— mengirimkan utusan kepada Paus dan raja-raja Kristen, ia mengingatkan mereka bahwa orang-orang Nasrani yang hidup di wilayahnya dapat menikmati kebebasan di saat kaum muslimin yang ada di kota-kota Spanyol mengeluhkan berbagai macam kezaliman dari penguasa Kristen.

Raja Asyraf mengancam akan melakukan tindakan yang sama terhadap orangorang Kristen yang tinggal di wilayah kekuasaannya jika penguasa Spanyol tidak menghentikan kekejamannya serta tetap mengusir kaum muslimin dari tempat tinggal mereka. Ia menuntut para penguasa Kristen agar tidak menyakiti kaum muslimin Andalusia dan mengembalikan apa yang telah mereka ambil. Akan tetapi,

Paus dan dua penguasa Katolik Spanyol tidak menghiraukan ancaman Raja Asyraf. Akhirnya Muslimin Andalusia mengirim surat yang berisi permintaan bantuan kepada Sultan Turki Utsmani Bayazid II. Isinya dalam bentuk bait-bait syair, yang selanjutnya mendeskripsikan keadaan yang dialami kaum muslimin di Andalusia, penderitaan yang menimpa orang-orang tua dan para wanita yang dinodai kehormatannya, serta kekejaman yang melanda kaum muslimin terkait keislaman mereka.

Sultan Bayazid II bermaksud memberikan pertolongan, tetapi ia mengeluhkan banyaknya rintangan yang dihadapi terkait upaya pengiriman para pejuang Islam ke Andalusia. Pada waktu itu, Sultan Bayazid II sedang bertikai dengan Amir Jum terkait takhta kesultanan. Di samping itu ada perselisihan antara Daulah Utsmaniyah dengan pihak Roma dan beberapa negara Eropa, ditambah serangan orang-orang Polandia terhadap wilayah Moldova.

Selain itu, Sultan Bayazid II juga harus berperang melawan Kerajaan Transylvania, Hongaria, dan Venezia, serta menghadapi aliansi salibis baru yang dibentuk oleh Paus Julius II, Republik Venezia, Hongaria, dan Prancis. Berbagai persoalan di atas mengharuskan Daulah Utsmaniyah mengirimkan kekuatan dan bala tentaranya ke berbagai wilayah tersebut.

Walaupun demikian, Sultan Bayazid II tetap mengirimkan bantuan serta melakukan kesepakatan dengan Sultan Mamalik Al-Asyraf untuk menyatukan usahausaha guna membantu menyelamatkan Kerajaan Islam Granada. Sultan Bayazid II dan Sultan Al-Asyraf menandatangai kesepakatan yang di dalamnya berisi klausul kewajiban Sultan Bayazid II untuk mengirimkan Angkatan Laut Turki Utsmani ke perairan Sisilia karena dianggap sebagai wilayah yang tunduk di bawah Kerajaan Spanyol, sedangkan Sultan Mamalik harus menyiapkan serangan-serangan yang lain dari sisi Afrika.

Kenyataannya, Sultan Bayazid II bahkan mengirimkan Angkatan Laut Turki Utsmani ke pantai-pantai perairan Spanyol. Sultan menyerahkan kepemimpinan Armada Laut Turki Utsmani kepada Kamal Reis yang mampu membuat takut armada laut Kristen pada akhir abad ke-15. Sultan Bayazid II juga memberikan motivasi kepada para pejuang di lautan untuk menampakkan perhatian dan kasih sayang kepada kaum muslimin Andalusia.

Angkatan Laut Turki Utsmani memulai pergerakan mereka untuk menyelamatkan Muslimin di Andalusia. Pada saat yang sama bergabunglah sejumlah besar kaum Muslimin pada saat terjadi pemberangkatan armada laut. Setelah itu, pasukan Turki Utsmani menggunakan kekuatan angkatan laut yang baru di sisi barat Laut Mediterania dengan tambahan motivasi dari para pejuang tersebut. Selain itu, mereka juga menyelamatkan orang-orang Yahudi, yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan Muslimin di Andalusia. Itulah yang dapat dilakukan oleh Sultan Bayazid II.

F.Irawan/Lapsus Syamina: Kehidupan Yahudi dan Nasrani di Bawah Naungan Khilafah Turki Utsmani

Catatan kaki:
1 Lihat: Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyyah, Dr. Jamal Abdul Hadi, hlm. 49–50.
2 Lihat: Juhud Al-‘Utsmaniyyin li Inqadz Al-Andalus, Dr. Nabil Abdul Hayy, hlm. 125, dikutp oleh Ash-Shallabi
dalam “Sejarah Daulah Utsmaniyah”

Leave a Response