Meriam Lada Secupak: Tanda Cinta Khilafah Utsmani Untuk Aceh

share on:

Ferdinand Mendez Pinto, seorang pelaut Portugis abad ke-16, mencatat bahwa diplomasi antara Kesultanan Aceh dan Kekhalifahan Turki Utsmani telah dimulai pada tahun 1530-an. Ia menulis, saat menaklukkan wilayah Batak, Aceh mendapat bantuan militer dari Turki Utsmani berupa 60 prajurit Turki dan 40 pasukan Yanissari, lengkap dengan alat-alat artileri. Peristiwa ini terjadi pada era Sultan Sulaiman Al-Qanuni, penguasa Turki Utsmani periode 1520-1566.

Hal itu berlanjut pada hubungan yang lebih serius. Pada 1565, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Al-Qahhar, penguasa Kesultanan Aceh (1537-1571), mengutus Husein Effendi untuk menemui Sultan Sulaiman di Istanbul dengan maksud agar Kesultanan Aceh diakui sebagai negara bawahan (vassal state) Turki Utsmani, sekaligus meminta bantuan militer dalam upaya mengusir Portugis dari Malaka.

Delegasi dari Aceh ini baru dapat bertemu dengan penguasa Turki pada akhir tahun 1567. Saat itu Sulaiman Al-Qanuni telah mangkat, sehingga kedatangannya disambut oleh penggantinya, Sultan Salim II (1566-1574).

Oleh penguasa baru ini, permintaan Aceh tersebut dikabulkan. Secara resmi, Kesultanan Aceh sejak saat itu diakui sebagai negara bawahan Turki Utsmani.

Terkait bantuan militer, Sultan Salim II mengirim belasan armada laut lengkap dengan artilerinya yang dipimpin admiral Kurtoglu Hizir Reis. Meski tidak sampai ke Aceh karena dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman, setidaknya artileri dan para teknisinya berhasil mendarat ke Aceh.

Meriam lada secupak

Salah satu di antara artileri yang dikirimkan adalah meriam besar berukuran 4 meter dengan berat 7 ton, yang dikenal sebagai ‘Meriam Lada Secupak’ (secupak: segenggam). Meriam ini merupakan buah dari diplomasi ‘segenggam lada’ yang dipersembahkan dari pihak Aceh untuk otoritas Turki Utsmani. Awalnya, utusan dari Aceh membawa sejumlah besar komoditas sebagai persembahan. Akan tetapi, akibat lamanya waktu yang ia jalani di Istanbul untuk dapat bertemu dengan sultan Turki, sang utusan terpaksa menjual habis persembahan yang ia bawa demi mencukupi kebutuhannya di negeri tersebut. Saat tiba waktunya menghadap, sang utusan tidak dapat mempersembahkan apapun kepada penguasa Turki (Salim II) kecuali ‘segenggam lada’ di tangan yang masih tersisa.

300 tahun lamanya meriam legendaris tersebut membersamai perjuangan rakyat Aceh dalam menentang penjajahan bangsa kafir Eropa, hingga pada 1874, meriam kebanggaan Aceh ini dirampas dan diangkut para penjajah Belanda ke negerinya. Sampai detik ini, keberadaannya masih tersimpan di Museum Bronbeek, Belanda.

SUMBER:
– Jejak Kekhalifahan Turki Utsmani di Nusantara, Deden A. Herdiansyah;
– Inskripsi Islam tertua di Indonesia, Claude Guillot & Ludvik Kalus;
– Asal mula konflik Aceh, Anthony Reid;
– The Voyages and Adventures of Ferdinand Mendez Pinto, the Portuguese, Ferdinand Mendez Pinto;
& Beberapa sumber tambahan

(AKSARA: Aktivis Sadar Sejarah)

Leave a Response