Wafatnya Sultan Murad IV

share on:

Pada hari ini 8 Februari, di tahun 1640 Masehi —382 tahun yang lalu— ada sebuah peristiwa yang diabadikan dalam sejarah Utsmaniyah. Peristiwa itu adalah wafatnya Sultan Al Ghazi Murad IV. Beliau bukan tokoh biasa, beliau berbeda dengan sultan-sultan lainnya, sebab dikatakan bahwa Sultan Murad IV Bapak Founding Father Utsmaniyah yang kedua. Yuk kita kenal lebih dekat siapa beliau.

Sebuah redaksi situs Islamstory asuhan Dr Raghib Sirjani tentang Kekhalifahan Utsmaniyah menulis demikian,

وكثر الإعمار في عصره حتى قيل: إنه استلم الخزينة عند ارتقائه العرش فارغة، وتركها مملوءة عند وفاته

“Bahwa di masa Sultan Murad IV, tersebar kemakmuran di masanya sampai dikatakan bahwa: ia menduduki amanah sultan ketika kas negara sedang kosong, namun ketika beliau wafat, kas negara dalam keadaan penuh.”

Sultan Murad IV Jadi istimewa karena beliau termasuk pemimpin yang turun tangan langsung berjihad dengan pasukannya di lapangan. Dikatakan dengan fenomenal bahkan,

وكان يباشر الحروب بنفسه، ويخالط جنوده، وينام أحيانًا في الغزوات على حصانه

“Beliau tampil langsung di Medan tempur, sangat dekat dan merakyat dengan pasukannya, dan kadang-kadang beliau tidur di atas kudanya dalam beberapa pertempuran.”

Masa pemerintahan beliau, Kekhalifahan Utsmaniyah banyak sekali berbenturan dengan kesultanan Syiah Shafawiyah Iran. Pendahulu sang sultan banyak mengalami kekalahan melawan Shafawiyah, itulah yang membuat beliau bertekad untuk mengembalikan Marwah dan martabat Utsmaniyah sebagai benteng Ahlussunah kala itu. Beliau pun terjun langsung ke Medan tempur melawan pasukan musuh.

Di masanya juga, rekonstruksi Masjidil Haram juga sangat diperhatikan. Kala itu Makkah diguyur banjir yang banyak merusak tatanan kota, sehingga Kekhalifahan Utsmaniyah turun langsung merekonstruksi bangunan-bangunan Masjidil Haram. Tak hanya itu, Sultan Murad IV memerintahkan gubernur Mesir untuk memenuhi kebutuhan suplai makanan, logistik dan semua keperluan penduduk Makkah Madinah. Sebuah pemuliaan yang luarbiasa.

Sang Sultan wafat di usia yang masih muda, sekitar umur 27 tahunan pada 16 Syawwal 1049 Hijriah bertepatan dengan 8 Februari 1640. Wafatnya beliau membuat duka para rakyat Utsmaniyah, sebab beliau diproyeksikan bisa sehebat kakek buyutnya, Sultan Sulaiman Al Qanuni, dalam kehebatan memerintah dan berjihad.

Referensi :
1. www.islamstory.com
2. تاريخ الدولة العلية العثمانية – تأليف:محمد فريد بك المحامي وتحقيق: إحسان حقي

Source: Gen saladin

Leave a Response