Turkish Coffee

share on:

Begitu mendengar istilah kopi Turki, segera terbayang ibrik beserta gelas kecil yang indah. Disajikan di atas nampan artistik beserta dua potong baklava atau beberapa potong lokum; keduanya makanan khas Turki yang rasanya sangat manis, meskipun baklava sebenarnya makanan khas Palestina.

Kopi Turki pada awalnya merujuk pada cara membuat kopi (coffee brewing) dengan cara menuangkan air panas pada racikan kopi yang sudah siap di gelas. Inilah yang kita kenal sebagai kopi tubruk, metode membuat kopi sering menjadi standar dasar saat menguji rasa kopi (cupping), meskipun sekarang tak lagi selalu seperti itu. Cara membuat kopi semacam ini sudah sulit dijumpai di Istanbul, tetapi merupakan cara yang sangat umum berlaku di Indonesia.

Saat ini yang dikenal sebagai kopi Turki adalah cara membuat kopi dengan memasukkan beberapa sendok kopi bubuk (seringkali berempah) ke dalam ibrik, menambahkan air secukupnya, lalu memanaskan di atas bara arang hingga airnya tinggal sepertiga. Kopi kental yang panas itu pun siap dituangkan ke dalam gelas-gelas cantik mungil. Biasanya disajikan tanpa gula agar pahitnya benar-benar terasa. Jika pahitnya mulai berkurang, selingi sejenak dengan memakan yang manis. Kopi yang biasa pun jika diseruput sesudah memakan yang manis akan terasa lebih pahit, apalagi untuk kopi yang memang sangat pahit.

Kopi rempah khas Turki mulai berkembang sejak zaman Sultan Murad IV. Sebelum itu, hanya dikenal di kalangan para ulama, penulis dan pegawai kantor yang sedang bertugas. Budaya kopi Turki berasal dari Tanah Suci Makkah dan bersumber dari tradisi Yaman. Pada masa Sultan Murad IV, kopi rempah disajikan bagi pasukan yang selesai bertugas untuk memulihkan kebugaran, sebelum kembali ke rumah masing-masing menemui istrinya.

Selain tentu saja berisi kopi sebagai bahan utama, kopi rempah Turki juga menggunakan kardamom (kapulaga), cengkeh, terebinthus, sahlep, mastic, carob yang rasanya serupa coklat, dan bubuk kakao. Racikan inilah yang dikenal sebagai Osmanli Kahvesi atau Kopi Usmani (Ottoman Coffee). Sedangkan kopi yang lebih sederhana, hanya menggunakan campuran kardamom atau kardamom plus mastic, dikenal sebagai Turkish Coffee. Begitu pula yang tidak menggunakan campuran, tetapi proses pembuatannya memakai ibrik, juga disebut Kopi Turki (Turkish Coffee).

Di Saudi, istilah Kopi Turki merujuk pada kopi siap seduh, tanpa atau hanya menggunakan sedikit campuran kardamom. Ukuran “sedikit” ini setidaknya jika dibandingkan dengan kopi Lebanon semisal produk pabrikan Maatouk. Tetapi yang sedikit itu pun sudah cukup menyengat bagi yang terbiasa dengan kopi murni.

Meskipun sama-sama kopi Turki, tetapi istilah Turk Kahvesi atau Turkish Coffee biasanya merujuk pada kopi campur kardamom plus mastic atau hanya dicampur kardamom. Adapun kopi yang menggunakan campuran tujuh macam rempah lebih dikenal sebagai Osmanli Kahvesi atau Kopi Usmani; resep racikan kopi yang sudah berusia ratusan tahun.

Turkish Coffee dapat ditambahkan kardamom yang lebih banyak sehingga serupa kopi Lebanon. Dapat pula ditambahkan racikan rempah instant semacam produk Aba Al-Khail, Qasim, Saudi Arabia. Atau jika Anda punya selera yang cukup berani, dapat mencoba racikan khas Suriah yang berdekatan dengan Lebanon, yakni Kopi Kardamom plus Misk Abyadh. Caranya, ketika kopi sudah siap diminum, tambahkan satu atau dua tetes Misk Abyadh asli murni, aduk, lalu diamkan beberapa saat sebelum diminum.

Jika suka, Anda juga dapat menambahkan za’faran pada Turkish Coffee. Jangan tambahkan Misk Abyadh lagi. Caranya, masukkan bubuk za’faran ke dalam cangkir atau gelas. Lalu tuangkan kopi Turki yang sudah direbus ke dalamnya. Tunggu beberapa saat, aduk, dimakan sejenak, kemudian minum.

Berawal dari Turki, tradisi kopi berkembang hingga ke Vienna, Austria dan merambah sampai Swiss. Vienna bahkan dikenal dengan standar sangrai (roasting profile) yang khas. Hanya saja tidak menggunakan campuran apa kardamom. Kopi Vienna lebih banyak menawarkan single origin yang istimewa.

Budaya kopi Turki juga sangat memengaruhi masyarakat. Bukan pada racikan kopinya, tetapi cara menyeduh dan terutama budaya dasarnya, yakni minum kopi sebagai media untuk diskusi dan membahas masalah agama. Kedai kopi banyak berdiri di dekat masjid, meskipun lambat laun budaya diskusi sembari menyeruput kopi sudah bergeser menjadi kebiasaan ngobrol berlama-lama sembari menikmati sensasi kopi yang mewangi.

Penulis:
Ust. Fauzil Adzim

Leave a Response